Komplit Demensia Frontotemporal: Ketahui Jenis dan Gejala-gejalanya

Afasia nonfluent progresif, yang memengaruhi kemampuan berbicara.

– Demensia semantik, yang memengaruhi kemampuan untuk menggunakan dan memahami bahasa.

Tanda dan gejala demensia frontotemporal dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.

Tanda dan gejala semakin memburuk dari waktu ke waktu, biasanya selama bertahun-tahun.

Mengutip dari Mayo Clinic, berikut gejala-gejala demensia frontotemporal: 1.

Perubahan Perilaku Tanda paling umum dari demensia frontotemporal melibatkan perubahan ekstrim dalam perilaku dan kepribadian.

Kondisi ini termasuk: – Perilaku sosial yang semakin tidak pantas- Kehilangan empati dan keterampilan interpersonal lainnya, seperti memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain- Kurangnya penilaian- Hilangnya hambatan- Kurang minat (apatis), yang bisa disalahartikan sebagai depresi- Perilaku kompulsif berulang, seperti mengetuk, bertepuk tangan, atau menampar bibir 2.

Masalah bicara dan bahasa Beberapa subtipe demensia frontotemporal menyebabkan masalah bahasa atau gangguan atau kehilangan kemampuan berbicara.

Afasia progresif primer, demensia semantik, dan afasia agrammatik progresif (tidak lancar) semuanya dianggap sebagai demensia frontotemporal.

Masalah yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut antara lain: – Meningkatnya kesulitan dalam menggunakan dan memahami bahasa tulis dan lisan, seperti kesulitan menemukan kata yang tepat untuk digunakan dalam ucapan atau penamaan objek.

– Kesulitan menamai sesuatu, mungkin mengganti kata tertentu dengan kata yang lebih umum seperti “itu” untuk pena.

– Tidak lagi mengetahui arti kata.

– Memiliki ucapan ragu-ragu yang mungkin terdengar seperti telegrap.

– Membuat kesalahan dalam konstruksi kalimat.

3.

Gangguan motorik Subtipe yang lebih jarang dari demensia frontotemporal dicirikan oleh masalah gerakan yang mirip dengan yang terkait dengan penyakit Parkinson atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS).

Masalah terkait motorik mungkin termasuk: – Getaran – Kekakuan – Kejang atau kedutan otot – Koordinasi yang buruk – Kesulitan menelan – Kelemahan otot – Tertawa atau menangis yang tidak pantas – Jatuh atau masalah berjalan RINDI ARISKAPilihan editor : Kebiasaan Tidur yang Ternyata Tanda Demensia, Waspada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *